Kategori
Kesaksian Staf

Cerita Tentang Pelayanan di Pulau Rote

CERITA TENTANG PELAYANAN DI PULAU ROTE

Rabea M.S. Seo, S.Th., M.Th

     Terpujilah Allah Tritunggal, sang pemilik pelayanan yang terus mempercayakan kita untuk melayani Dia sampai saat ini. Bersyukur pula atas kasih dan penyertaanNya bagi pelayanan Perkantas, terkhususnya di Rote yang terus megalami pembaharuan dalam kasihNya bagi setiap generasi yang dilayani hingga saat ini. Sungguh kami melihat begitu besar kasih Tuhan yang tak henti-hentinya kami rasakan dalam wadah pelayanan Perkantas ini, untuk melayani generasi-generasi baik siswa, mahasiswa serta alumni supaya dimuridkan dengan harapan bahwa kelak mereka akan menjadi pemimpin- pemimpin bangsa yang berkompoten serta takut akan Tuhan. Meskipun sempat melewati tantangan di mana kami harus terus mengerjakan pelayanan ini di tengan pandemic Covid19 dengan segala keterbatarasan yang ada, namun kasih dan setia Tuhan terus menguatkan kami untuk tetap setia mengerjakan pelayanan ini, hingga keadaan berangsur-angsur kembali normal seperti sekarang ini.

     Bersyukur untuk pelayanan Kak Rabea M.S. Seo, S.Th., M.Th, sebagai Pimpinan Cabang Perkantas NTT yang pada tahun ini berkesempatan untuk melayani gerenerasi-generasi muda yang dipanggil Tuhan di Kabupaten Rote Ndao pada tanggal 05–08 Agustus 2022.  Dalam kunjungannya Kak Bea berkesempatan melayani dalam Kebaktian Awal Tahun Ajaran (KATA) di Persisten SMA Negeri 1 Rote Barat Laut dan SMA Negeri 1 Rote Tengah. Kami bersyukur untuk pihak sekolah yang terus mendukung pelayanan Persektuan Siswa Kristen (Persisten) ini yang diharapkan bisa menguatkan siswa dalam hal moral maupun spiritual untuk menolong generasi ini menjadi berkat, terkhususnya di lingkungan sekolah mereka berada. Tema yang dipilih adalah “Grace Alone”, Semuanya Karena Knugerah. Kami percaya semua pergumulan yang kami lewati bersama, terutama saat pandemi Covid-19 di mana aktivitas belajar mengajar harus dilakukan dari rumah rumah, pembatasan aktivitas untuk melakukan suatu kegiatan termasuk pelayanan, kini semuanya telah pulih dan kembali normal seperti semula hanya karena anugerah dari Tuhan semata. Kami terus meminta dukungan doa bagi orang-orang yang melayani sebagai Tim Pembimbing Siswa maupun guru kunci yang ada di sekolah, yang terus menolong dan mempunyai visi untuk mengerjakan pelayanan ini bersama-sama, serta doakan juga untuk setiap rencana follow-up yang akan dilakukan untuk mempersiapkan setiap generasi agar dimuridkan dalam wadah Kelompok Tumbuh Bersama (KTB).

     Kak Bea juga berkesempatan melayani di komponen alumni binaan Perkantas Rote dalam ibadah Persekutuan Besar Alumni. Dalam pelayanannya Kak Bea juga melakukan sharing kepada kakak- kakak alumni untuk menguatkan visi dan misi mereka dalam menghadapi pergumulan hidup baik keluarga, pekerjaan, studi, pelayanan supaya mereka tetap percaya dan bergantung kepada Tuhan. Terima kasih untuk pelayanan Kak Bea kepada komponen siswa dan alumni binaan di Rote. Kiranya Tuhan Yesus terus menyertai setiap pelayanan yang kakak kerjakan untuk menjadi berkat bagi kemuliaaNya.

Foto Kegiatan Pelayanan

Kategori
Kesaksian Staf

Sukacita Melayani Tuhan dalm Penderitaan

SUKACITA MELAYANI TUHAN DALAM PENDERITAAN

Kolose 1:24-29

     Sebagai manusia penderitaan adalah sesuatu yang tidak terhindarkan dalam kehidupan kita.  Dalam melayani Tuhan pun kita mengalami penderitaan. Namun melayani dengan sukacita meskipun mengalami penderitaan itu adalah sesuatu yang sulit ditemui. Karena namanya penderitaan pasti ada kesakitan, kesusahan dan lain-lain, yang melaluinya orang sulit merasakan sukacita. Namun, sebagai pelayan Tuhan kita diharapkan untuk melayani Tuhan dengan sukacita meskipun kita mengalami penderitaan. Mengapa kita perlu bersukacita melayani Tuhan meskipun kita sedang mengalami penderitaaan? Bukankah itu adalah dua hal yang berlawanan?

     Ketika Paulus menulis suratnya kepada jemaat di Kolose, ia sedang berada dalam tahanan. Menjadi seorang tahanan, itu bukanlah sesuatu yang mengenakkan. Tekanan batin, fisik yang terancam sakit, belum lagi diperhadapkan dengan kondisi jemaat yang dilayaninya diterpa ajaran sesat dan lain-lain. Hal ini tentu membuatnya menderita, tetapi justru dalam penderitaanya, ia tidak fokus kepada dirinya sendiri, tetapi ia fokus pada tugas yang dipercayakan kepadanya untuk meneruskan Firman-Nya tentang Kristus yang menjadi pengharapan akan kemuliaan. Meskipun Paulus menderita, tetapi dia tetap bersukacita.

     Paulus memandang penderitaan sebagai bagian dari penderitaan Yesus atas gereja dan penderitaannya adalah bagian dari panggilan itu. Paulus bersukacita karena ia diberi kesempatan untuk mengambil bagian dalam penderitaan yang Kristus alami. Paulus sadar sebagai Pelayan Tuhan, penderitaan yang ia alami tidak menghilangkan sukacita karena tugas yang dipercayakan Allah kepadanya untuk memberitakan Injil keselamatan di dalam Kristus. Injil keselamatan itu adalah rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad, dari generasi ke generasi. Karena rahasia itu adalah Kristus, maka ia tetap bersukacita dalam penderitaan dan tetap memberitakan Kristus yang menjadi pengharapan dan kemuliaan supaya melaluinya orang mengenal, bertumbuh menuju kedewasaan di dalam Dia.

     Penderitaan tidak membuat Paulus kehilangan sukacita di tengah keterbatasannya karena berada di dalam penjara. Hal ini  ditunjukkan ketika ia mendengar permasalahan yang dihadapi jemaat Kolose melalui Epafras, yaitu adanya ajaran palsu yang mengancam kehidupan rohani jemaat Kolose. Ia menulis surat kepada jemaat di Kolose bahwa Injil keselamatan hanya ada di dalam Kristus dan itulah yang ia usahakan dan gumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa yang dikaruniakan Tuhan baginya.

     Bagian Firman Tuhan ini menegur saya dengan keras bahwa saat mengerjakan pelayanan pemuridan, terkadang kendala-kendala, hambatan-hambatan yang dihadapi sebenarnya masih bisa saya hadapi dan penderitaan yang dialami pun tidak sebanding yang alami oleh Rasul Paulus. Jika dibandingkan dengan Rasul Paulus, saya hanya mengalami sampai pada perasaan yang tidak nyaman karena disalah mengerti, namun tidak sampai pada penganiayaan secara fisik dan penderitaan lainya, sehingga saya hanya terjebak dalam mengasihani diri sendiri. Paulus mengalami sampai pada penderitaan fisik, psikis dan lain-lain, tetapi ia tetap bersukacita melayani Tuhan dengan memberitakan injil Kristus. Ia tetap mengusahakan, menggumulkan di dalam doa-doanya dan dengan kekuatan yang diberikan Kristus membuatnya terus berjuang. 

     Kiranya sebagai pelayan Tuhan kita pun melayani dengan setia dan penuh sukacita meskipun kita mengalami banyak penderitaan. Karena kita tahu bahwa Tuhan Yesus pun dalam pelayanan-Nya mengalami banyak penderitaan, tetapi Ia setia kepada panggilan-Nya sehingga rela mati demi manusia diselamatkan. Karena itu biarlah kita pun mau makin mengenal Kristus, mengalami kuasa kebangkitan-Nya dan bersekutu dalam penderitaan-Nya. Dengan demikian kita pun dimampukan untuk bersukacita dalam mengerjakan pelayanan meskipun ada banyak penderitaan yang kita hadapi. AMIN

Kategori
Mahasiswa

Bertumbuh dan Menjadi Berkat Melalui KTB

 

 

 

 BERTUMBUH DAN MENJADI BERKAT MELALUI KTB

Ina Nalle (PKTB)

Hallo…Saya Yuniati Paulina Nalle, akrab disapa Ina, berasal dari suku Rote. Saya mahasiswi di Universitas Nusa Cendana Kupang, Prodi Budidaya Perairan dan saat ini sudah semester 10. Awal saya mulai berKTB di tahun 2018. Di dalam KTB saya dibentuk untuk terus bertumbuh di dalam Kristus, hingga tahun 2019 saya dipercayakan untuk memimpin KTB yang mana pada saat itu saya baru semester 5. Waktu pertama kali dipercayakan untuk memimpin KTB, saya sempat merasa kurang percaya diri dan merasa tidak mampu, tetapi karena hikmat dan pimpinan Tuhan yang meyakinkan saya untuk menerima panggilan Tuhan dan memimpin KTB ini. KTB yang saya piumpin diberi nama KTB Claire yang berarti “Terang atau cahaya”. Alasan kami memilih nama ini adalah agar setiap kami yang ada dalam Kelompok Tumbuh Bersama ini bisa menjadi terang bagi diri sendiri dan sesama seturut dengan kehendak Tuhan Yesus Kristus. KTB Claire terbentuk di tahun 2019 dengan jumlah anggota (AKTB) 5 orang, karena saat itu bertepatan dengan diadakannya Kebaktian Awal Tahun Ajaran (KATA) di PMK Ichthys sehingga banyak mahasiswa baru yang difollow up untuk mengikuti KTB.

Saya dipercayakan untuk memimpin 5 orang AKTB dari jurusan dan daerah asal yang berbeda-beda. Saya sangat bersyukur karena mereka benar-benar mau memberi diri untuk berKTB dan mau belajar mengenal Tuhan dan Firman-Nya lebih dalam. Dalam pertemuan KTB kami tidah hanya membahas materi dari buku-buku panduan KTB, tetapi kami juga saling sharing pengalaman maupun masalah hidup, melakukan PA, saat teduh bersama, bahkan untuk mengatasi kebosanan kami bermain Game dan masih banyak lagi.

Seiring berjalannya waktu kami juga menemui banyak kendala yang juga dialami oleh kelompok-kelompok KTB pada umumnya, diantaranya PKTB maupun AKTB yang sulit untuk keluar rumah, sulit mengatur waktu yang pas untuk berKTB dan lain sebagainya. Tahun 2020, salah seorang adik KTB saya memutuskan untuk tidak lagi berKTB karena alasan pribadi yang tidak bisa diceritakan dan hampir saja di tahun 2022 ini, salah satu AKTB ingin keluar dan tidak mau melanjutkan KTB. Ketika diperhadapkan dengan siatuasi tersebut saya cukup tertekan dan merasa diri belum baik dalam memimpin adik-adik, namun saya kembali diingatkan oleh PKTB saya sendiri, Kak Feby Soares bahwa saya bukan Tuhan yang mampu bekerja sampai ke dalam hati dan pikiran manusia. Tugas saya adalah memberitakan injil Tuhan dan membimbing mereka untuk bertumbuh menjadi murid Kristus dan sisanya adalah bagian Tuhan. Perkaran mereka bertobat atau tidak itu bagiannya Tuhan. Melalui Kak Feby saya kembali dikuatkan oleh Tuhan untuk semangat dalam melanjutkan pelayanan ini. Oleh larena adanya rasa persaudaraan, saling mendukung, saling mengasihi, saling menguatkan antara satu dengan yang lain dan yang pasti karena campur tangan Tuhan Yesus, sehingga KTB Claire masih kuat bertahan dan ada sampai saat ini dengan 4 orang anggota yaitu Ismie, Hilda, Tuti, dan Noban. Berkat yang saya peroleh ketika menjadi seorang PKTB yaitu saya belajar untuk bisa menjadi saudara, teman, dan kakak yang baik buat adik-adik, selalu mendengar ketika mereka ingin bercerita dan membantu ketika mereka meminta tolong. Lambat laun kebiasaan ini berakar kuat di dalam diri saya sehingga ketika berada di kampus, keluarga, dan lain sebagainya saya bisa menjadi tempat berbagi yang baik bagi orang-orang di sekeliling saya.

Ismie DRK (AKTB)

Hallo, saya Ismie, lengkapnya Ismie Dwigita Rambu Kurniawati. Dari kata Rambu saja teman-teman sudah bisa tahu bahwa saya berasal dari Waingapu, Sumba Timur. Seperti Kak Ina, saya juga mahasiswi Undana Kupang, Prodi Budidaya Perairan, dan sekarang semester 6.

Pada saat dihubungi pertama kali untuk berKTB sempat timbul keraguan dalam diri kerena posisi saya saat itu sebagai mahasiswa baru yang masih butuh banyak belajar dan juga saya masih menumpang tinggal bersama keluarga sehingga ada rasa takut tidak dapat memanajemen waktu dengan baik untuk mengikuti pertemuan KTB maupuan kegiatan organisasi lainnya, tetapi dengan bermodalkan kerinduan untuk terus bertumbuh di dalam Tuhan, saya memutuskan untuk tetap bergabung dalam KTB.

Tahun pertama berKTB memang apa yang sebelumnya menjadi ketakutan saya benar-benar terjadi. Karena tinggal dengan keluarga, saya tidak bisa pulang terlambat sehingga sulit mengatur waktu untuk berKTB. Akibatnya pertemuan KTB kami harus ditunda terus menerus. Namun saya bersyukur bahwa ketika kita selalu memiliki kerinduan untuk bertumbuh di dalam Tuhan, maka Ia akan selalu memberi jalan keluar terhadap setiap kesulitan yang kita alami. Puji Tuhan pergumulan saya terjawab sehingga di tahun kedua saya diijinkan untuk tinggal di kost sampai sekarang sehingga tidak ada alasan lagi untuk menunda pertemuan KTB.  

Berkat yang saya peroleh melalui KTB yaitu saya diingatkan bahwa saya adalah anak Tuhan yang sangat Dia kasihi sehingga Dia menjamin banyak hal dalam hidup saya, mulai dari Jaminan Keselamatan, Jaminan Jawaban Doa, Jaminan Kemenangan, Jaminan Pengampunan Dosa dan Jaminan Bimbingan Tuhan yang selalu ada. Saya selalu merasa dikuatkan dengan banyak hal, baik itu ketika belajar dari bahan KTB, mendengar sharing pengalaman hidup dari SKTB, dan lain sebagainya. Saya semakin tahu bahwa Tuhan Yesus sungguh mengasihi saya dan penyertaannya selau nyata dalam kehidupan saya. Saya bukan apa-apa jika tanpa Tuhan dan saya kuat sampai saat ini karena Tuhan. Saya juga diajak untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan PMK, baik di PMK Ichthys maupun PMK Sekota Kupang, dan di situ saya bisa menjalin pertemanan dengan banyak mahasiswa yang sama-sama belajar melayani Tuhan. Ini merupakan satu hal yang saya syukuri hingga saat ini dan sekarang diberi kesempatan melayani sebagai Badan Pengurus di PMK Ichthys dan bonusnya lagi adalah di awal April kemarin saya dipercayakan untuk memimpin kelompok KTB. Rasa takut pasti ada tetapi dukungan dan dorongan dari PKTB, SKTB, teman-teman BP dan pendamping yang menjadikan saya lebih semangat dan percaya diri. Bersyukur untuk PKTB dan SKTB yang benar-benar menjadi teman bercerita dalam hal apa pun itu sehingga saya tidak pernah merasa sendiri karena Tuhan menolong saya lewat orang-orang yang mau berbagi dan peduli dengan saya.

Hilda Nubatonis (AKTB)

Shalom… nama saya Juni Matilda Agustina Nubatonis, panggil saja Hilda. Saya juga mahasiswi Undana Kupang, Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan, sekarang semester 6, asal dari Kota Soe, Timor Tengah Selatan. Sedikit berbeda dengan Ismie, saya tidak dihubungi untuk berKTB namun saya yang menghubungi kakak-kakak badan pengurus PMK untuk menanyakan soal KTB dan Tuhan menolong sehingga ada respon yang baik dari dan saya bisa bergabung dalam KTB. Dalam KTB saya mendapatkan banyak pelajaran berharga yang membuat saya semakin bertumbuh dalam Tuhan, baik itu melalui materi KTB maupun melalui sharing pengalaman hidup yang dibagikan oleh PKTB dan SKTB saya. Selain itu saya juga seperti mendapat Rumah Baru bersama PKTB Kak Ina dan SKTB Ismie, Noban,dan Tuti. Bersama mereka saya dapat menceritakan segala hal yang saya alami, bahkan cerita-cerita yang abstrak sekali pun mereka tetap menjadi pendengar setia, dan itu merupakan salah satu berkat Tuhan yang sangat saya syukuri karena meskipun jauh dari orang tua, namun Tuhan mengirim orang-orang yang mau mendengar setiap keluh kesah saya. Saya juga lebih peka untuk merasakan penyertaan Tuhan dan jawaban Tuhan dalam setiap doa-doa saya, yang awalnya saya anggap itu biasa-biasa saja tetapi semakin ke sini saya semakin mengerti bahwa Tuhan begitu mengasihi saya. Bersyukur juga karena saya dipercayakan untuk melayani Tuhan menjadi badan penggurus di PMK Ichthys dan menjadi panitia dalam kegiatan-kegiatan di PMK dan saya bisa menggunakan talenta yang Tuhan kasih untuk melayani Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama. Dengan demikian, saya tidak hanya mengalami pertumbuhan untuk semakin dewasa secara rohani tetapi saya juga semakin memiliki kepercayaan diri untuk memberkati orang lain dengan apa yang saya punya.

Tuti Talelu (AKTB)

Hallo… saya Tuti Irnawati Talelu, panggil saja Tuti. Asal dari Soe, Timor Tengah Selatan. Sama seperti Ismie, saya berkuliah di Undana Kupang, Prodi Budidaya Perairan, semester 6 sekarang. Motivasi awal saya berKTB karena saya merasa bahwa pergi ke Gereja saja tidak cukup menjamin agar iman saya semakin bertumbuh di dalam Tuhan sehingga saya membutuhkan komunitas lain yang lebih intim untuk saya dapat belajar bertumbuh mencapai kedewasaan dalam Kristus. Karena alasan itulah saya memutuskan untuk berKTB. Bersyukur karena Tuhan selalu menolong orang-orang yang punya kerinduan untuk mengenal Dia sehingga selama berjalannya KTB saya benar-benar merasakan pertumbuhan di dalam Tuhan. Saya diajarkan banyak hal yang membuat saya semakin dalam mengenal Tuhan Yesus. Hal yang tidak saya dapatkan di gereja bisa saya peroleh melalui KTB karena saya belajar bahwa Tuhan menjamin banyak hal di dalam hidup saya dan saya merasa sangat dikasihi. Selain itu, Tuhan mempertemukan saya dengan PKTB dan SKTB yang sangat peduli, pengertian, dan mengasihi saya seperti saudara kandung saya sendiri. Itu merupakan berkat Tuhan yang patut saya syukuri. Di tahun 2020 saya dipercayakan untuk menjadi badan penggurus di PMK Ichthys dan tetap berlanjut sampai tahun 2022 sekarang. Bersyukur lewat pelayanan di PMK Ichthys saya makin mengenal banyak orang dan tentunya lewat pelayanan ini saya dapat menjadi berkat bagi banyak orang.

Yunita Nuban (AKTB)

Hallo… Saya Yunita Elisabet Nuban, akrab disapa Noban, asal dari Soe, Timor Tengah Selatan. Saya juga berkuliah di Undana Kupang, Prodi Budidaya Perairan, semester 6. Saya tertarik untuk bergabung dalam KTB karena saya ingin tahu KTB itu seperti apa, kegiatan apa saja yang dilakukan dalam KTB dan tentunya ingin mengenal Tuhan lebih dalam. Saya sangat senang memiliki PKTB dan SKTB yang baik, peduli, dan pengertian antara satu dengan yang lain. Di dalam KTB saya tidak hanya diberkati dengan firman Tuhan namun saya juga diajarkan tentang bagaimana memanajemen waktu, uang, dan lain sebagainya yang membuat kualitas diri saya semakin baik dan bisa menjadi berkat bagi orang lain. Seiring berjalannya waktu, di tahun 2020 saya diberi kesempatan untuk melayani sebagai Badan Penggurus di PMK Ichthys selama 1 tahun dan sering terlibat dalam kepanitian kegiatan PMK. Pada tahun 2022 saya masih dpercayakan untuk lanjut melayani sebagai Badan Penggurus namun saya mengalami masalah pribadi yang tidak bisa diceritakan. Ketika saya mengalami masalah ini, saya merasa tidak pantas untuk melanjutkan pelayanan dan saya sempat berpikir untuk tidak lanjut berKTB, tetapi dengan adanya dukungan dari PKTB, SKTB, teman-teman BP serta kakak-kakak pendamping PMK yang selalu menguatkan dan peduli dengan masalah yang saya alami sehingga saya tetap melanjutkan KTB namun tidak lanjut menjadi badan penggurus. Dengan adanya masalah ini mengajarkan saya untuk tidak mengandalkan kekuatan saya sendiri, selalu ingat untuk tidak sombong dan selalu mengandalkan Tuhan dalam segala hal.

Sekian sharing dari kami KTB Claire, semoga memberkati rekan-rekan semua. Shalom…

Kategori
Alumni

Kekuatan Injil

KEKUATAN INJIL

     Shalom rekan-rekan Perkantas di NTT, saya Doni Baok, alumni dari Perkantas Soe. Melalui tulisan ini, saya ingin sedikit berbagi tentang pengalaman awal pertobatan saya. Saya sudah beragama Kristen sejak lahir karena mengikuti orang tua. Meskipun saya melakukan aktivitas seperti rajin bergereja, berdoa, berbuat baik dan lain-lain, saya belum sungguh memahami apa arti dari semua aktivitas tersebut. Bisa dibilang motivasi saya melakukan semuanya itu adalah sebagai tiket untuk masuk surga, dan juga masih sebatas rutinitas belaka. Saya belum menerima dan menjadikan Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat dalam kehidupan saya.

     Satu proses yang harus saya lewati sebelum menerima Kristus adalah saya dibiarkan Tuhan untuk merasa sakit hati terlebih dahulu. Waktu itu saya gagal SBMPTN di kampus dan jurusan impian. Saya kemudian diharuskan orang tua untuk masuk ke kampus yang sama sekali tidak saya inginkan. Padahal, saya masih ada peluang untuk masuk ke kampus tersebut melalui jalur mandiri. Saya sakit hati dengan orang tua, merasa “kurang gaul”, tidak percaya diri ketika ditanya tentang kuliah dimana?, merasa tidak adil dengan Tuhan, dan lain-lain yang intinya tidak menerima keadaan saya saat itu. Sampai suatu saat saya diajak untuk berKTB. Awalnya pun saya terpaksa karena yang mengajak (sebagai PKTB) adalah dosen sendiri. Tapi ternyata itu adalah awal pembentukan dan pengenalan saya akan Kristus.

     Saya belajar tentang jaminan-jaminan yang Tuhan berikan kepada setiap orang yang percaya kepadaNya melalui KTB, salah satunya adalah Jaminan Keselamatan. Di akhir pembelajaran saya ditantang untuk menerima Kristus, namun belum sepenuhnya menerima. Proses pengenalan dan belajar di KTB terus berlanjut, sampai di bahan Pembinaan Dasar saya disarankan untuk membaca buku The Purpose of Driven Life (salah satu buku yang mengubah kehidupan saya). Selalu ada hal-hal menarik disetiap bab dari buku ini yang menarik perhatian saya. “Kamu bukan kebetulan” – Keberadaan dan keadaanmu saat ini bukanlah kebetulan, jauh sebelum itu Allah sendiri yang telah merencanakan dan menetapkannya bagi anda untuk maksud dan tujuan-Nya”. Salah satu kutipan dari bagian awal di buku ini yang bisa dibilang meneguhkan saya untuk menerima dan menjadikan Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat.

     Ketika saya menerima Kristus, hal lainnyapun ikut berubah. Saya mulai menerima keadaan dan keberadaan diri sendiri. Kehidupan lama secara perlahan mulai saya tinggalkan, walaupun sampai sekarang saya masih terus belajar dan berproses. Motivasi awal saya pun berubah. Saya belajar dan bersyukur bahwa saya telah diselamatkan melalui pengorbanan Kristus, dan hal-hal seperti rajin gereja, berdoa, berbuat baik itu hanya sebagai bentuk ucapan syukur saya kepada Tuhan karena telah menyelamatkan saya. Itulah proses awal bagaimana saya mengenal Kristus dan Injil-Nya.

Bagaimana hal ini menolong saya didunia alumni? 

     Saat ini saya bekerja sebagai seorang guru di pedalaman Suku Lauje – Sulawesi Tengah. Suku Lauje adalah salah satu suku terasing di Indonesia, dan tempat saya mengajar bukanlah sebuah sekolah formal (sekolah formal harus ditempuh dalam waktu 2-3 jam dengan berjalan kaki), tetapi sebuah komunitas belajar (usia 5-17 tahun) yang baru dirintis 2 tahun lalu. Budaya malu dan penggunaan bahasa Indonesia yang masih minim di tempat ini menyebabkan awalnya saya kesulitan dalam mengajar, karena ketika ditanya peserta didik tidak mau menjawab sampai pelajaran berakhir, ditambah dengan akses jalan yang cukup menantang serta kondisi yang serba terbatas. Namun, dengan terus mengingat pengorbanan Kristus dan motivasi bahwa segala sesuatu yang dikerjakan harusnya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusialah yang terus menolong saya sejauh ini untuk bertahan. Termasuk juga kelompok KTB yang dibentuk semester sebelumnya dengan tujuan mengabarkan Injil atau kabar baik yang telah saya terima kepada orang lain. Bersyukur bahwa saat ini ketika ditanya tentang apakah yakin masuk surga jika mati sekarang?, maka jawabannya adalah YAKIN karena sudah percaya Tuhan Yesus yang telah menyelamatkan mereka.

     Selalu ada kesempatan untuk memberitakan Injil kepada orang lain melalui profesi masing-masing, tinggal bagaimana kita menemukan dan memanfaatkan kesempatan itu. Ingat bahwa, sebagai orang yang telah diselamatkan kita bertanggung jawab untuk memberitakan kabar baik itu kepada orang lain. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Shalom…

Kategori
Kesaksian Staf

Memaksimalkan Sosial Media untuk Kemuliaan Tuhan

Memaksimalkan Media Sosial untuk Kemuliaan Tuhan

Aku menghendaki, saudara–saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan injil, sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus. Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata– kata tentang Firman Allah dengan tidak takut (Filipi 1:12-14).

     Keadaan yang terbatas bisa membuat kita menjadi kreatif. Ketika Paulus menulis surat Filipi ia sedang berada di dalam penjara. Keadaan terpenjara harusnya menghambat Paulus sehingga ia tidak bisa memberitakan Injil seperti sebelumnya. Tetapi dalam surat ini kita tidak melihat pengeluhan tentang bagaimana ia kesulitan memberitakan Injil dan juga melakukan penggembalaan, tetapi justru ia menemukan cara untuk menggembalakan murid–murid dan jemaat lewat surat yang sangat mahal itu.

     Proses pembuatan surat pada waktu itu tidak seperti kita sekarang. Waktu itu menulis adalah pekerjaan penting dan membutuhkan biaya yang sangat mahal. Menurut para ahli, surat Filemon yang pendek itu bisa memakan biaya sampai 44 Juta Rupiah jika disamakan dengan mata uang kita sekarang. Apalagi surat Filipi atau surat Roma yang panjang itu.

     Tidak hanya memberikan pembinaan, lewat kesaksian dalam suratnya meski dalam penjara Paulus tetap melakukan pekerjaan penginjilan, dan di ayat 12 Paulus mengatakan bahwa apa yang terjadi atasnya justru menyebabkan kemajuan Injil. Karenanya Injil makin diberitakan di kalangan kerajaan dan karena teladannya makin banyak orang semakin berani memberitakan Injil. Paulus tidak menjadikan tantangan sebagai hal yang menghambat pelayanannya, tetapi tantangan sebagai cara pernyataan kemuliaan Tuhan.

     Keadaan di zaman sekarang berbeda dengan keadaan Paulus pada waktu itu. Dengan adanya internet kita justru menjadi tidak terbatas. Saat ini kebanyakan orang memiliki akun media sosial. Kehadiran Media sosial juga menjadi sarana yang sangat baik untuk bisa menghubungkan kita dengan orang yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal. Seharusnya dalam kondisi yang tidak terbatas ini, Injil semakin mudah diberitakan. Tetapi kenyataannya tidak demikian.

     Banyak faktor yang membuat Injil tidak mengalami kemajuan signifikan di tengah perkembangan teknologi ini. Ada faktor eksternal yang mana makin banyak juga konten-konten negatif yang beredar di internet. Godaan dosa kini hanya berada di ujung jari kita. Tetapi selain itu, faktor internal dari dalam diri orang percaya juga menjadi masalah. Orang percaya menggunakan media sosialnya tidak untuk kepentingan Injil.

     Sebagian kita mungkin berpikir bahwa tugas untuk memberitakan Injil di sosial media adalah tanggung jawab lembaga agama seperti gereja maupun yayasan seperti Perkantas, LPMI dan lain-lain. Namun kita perlu ingat bahwa tanggung jawab memberitakan Injil, Tuhan berikan kepada semua orang percaya. Amanat Agung Yesus berikan kepada semua orang yang beroleh keselamatan karena pengorbananNya. Karena itu kemajuan Injil adalah tanggung jawab kita bersama.

     Selain itu ada kesalahan berpikir pada kebanyakan orang percaya yang mencoba membedakan kehidupan rohani dan kehidupan sekuler. Bagi sebagian orang media sosial merupakan tempat berbagi hal-hal yang bersifat pribadi dan tidak harus berhubungan dengan nilai-nilai kekristenan. Cara berpikir seperti ini akhirnya membuat kita hanya memposting hal-hal yang menurut kita menyenangkan dan malah secara tidak sadar justru media sosial dijadikan sebagai tempat untuk pamer. Masalah terbesar dari pamer adalah kita mengharapkan orang lain yang melihat menjadi iri. Tentu ini adalah cara yang salah dalam menghidupi identitas kita sebagai garam dan terang dunia.

     Kita perlu ingat identitas kita dalam Kristus agar kita mampu bertindak dengan tepat. Sebagai garam dan terang dunia, seluruh bagian hidup kita harus kita pakai untuk menjadi berkat, termasuk kehidupan di media sosial. Karena itu kita harus memperhatikan cara kita menggunakan media sosial agar kehidupan kita bisa menjadi berkat. Kita perlu berpikir keras bagaimana cara menggunakan sosial media agar Injil bisa diberitakan dan nama Tuhan dipermuliakan melalui kehidupan kita.

Kategori
Kesaksian Staf

Pengakuan Dosa dan Anugerah Allah

Pengakuan Dosa dan Anugerah Allah

2 Samuel 11-12

     Kisah tentang raja Daud sudah tidak asing lagi bagi kita. Sedari kecil, kita sudah mendengar cerita tentangnya. Daud selalu digambarkan sebagai seorang raja yang elok parasnya, berani, kuat, takut akan Tuhan dan bisa memproduksi lagu yang bagus sampai populer di zamannya. Bisa dibilang, Daud adalah seorang yang perfect dan kalau ada di zaman sekarang, mungkin raja Daud pasti saingan berat dengan V, Jungkook BTS, dkk.. Bagaimana tidak? Ketika Daud mulai memainkan alat musik dan bernyanyi, Saul yang dikuasai iblis saja bisa merasa tenang dan damai.. kita bisa membaca sendiri kisah tentang raja Daud dalam kitab 1 dan 2 Samuel.

     Di sana kita akan menemukan cerita tentang Daud dari sebelum menjadi raja, bagaimana dia dipilih, kisah tentang keperkasaannya dan masih banyak lagi. Namun, kita perlu memperhatikan bahwa kitab Samuel ditulis bukan untuk kepentingan sejarah atau sebagai kitab biografi, tetapi tujuan utama penulisan kitab ini bersifat teologis, dimana memberikan pemahaman bagi kita tentang penetapan perjanjian Allah dengan Daud (2 Sam. 7). Karena penulisan kitab ini bersifat teologis, penulis tidak hanya menceritakan tentang hal-hal baik dan kejayaan raja Daud, tetapi juga tentang kejatuhannya, meskipun ia seorang raja yang namanya masyur dan kerajaannya kokoh. Di sini penulis ingin agar kita dapat melihat karya Tuhan di dalam kisah hidup Daud, apa pun itu.

     Kejatuhan raja Daud dimulai ketika ia sedang berjalan-jalan di atas sotoh istana dan ketika ia melihat ke bawah, tampak ada seorang wanita yang sedang mandi. Alkitab menulis bahwa wanita itu elok parasnya dan Daud mulai tertarik. Ketertarikan raja Daud membuatnya ingin tahu, mulai mencari tahu tentang siapa wanita cantik yang baru dilihatnya (gambaran kita pada umumnya kalau mulai tertarik dengan lawan jenis). Setelah dicari tahu, wanita cantik ini rupanya bernama Batsyeba dan ternyata sudah bersuami. Nama suaminya Uria, orang Het, dan ia seorang perwira yang sedang berada di medan pertempuran.

     Di sini konflik mulai muncul. Meskipun Daud sudah tau status Batsyeba, ia tidak dapat menahan hatinya. Keinginan untuk memiliki Batsyeba semakin besar sehingga ia menyuruh memanggil perempuan itu, lalu tidur dengan dia. Masalah makin melebar ketika Daud mendapat pesan dari Batsyeba bahwa ia sekarang tengah mengandung. Berita ini tentu membuat Daud makin gundah karena jika rumor ini beredar, nama baik keduanya dipertaruhkan dan dihukum mati (Imamat 20:10). Oleh karena itu, Daud mulai memutar otak.

     Daud memanfaatkan statusnya sebagai seorang raja untuk meminta Uria kembali dari medan pertempuran dengan alasan yang tidak jelas. Di ayat 7, dikatakan bahwa Daud menanyakan keadaan Yoab, panglima perangnya, menanyakan tentang keadaan tentara dan keadaan perang kepada Uria. Hal ini terlihat seperti terlalu dipaksakan. Jika Daud benar-benar ingin mengetahui keadaan di sana, tidak perlu Uria diundang untuk datang kepada raja. Orang yang tadinya Daud utus untuk meminta Uria pulang bisa menyampaikan akan hal itu. Atau, biasanya suatu kerajaan memiliki seorang utusan yang tugasnya untuk menyampaikan/mencari tahu tentang kondisi perang dan tentaranya.

     Jelas ini hanya alibi dari Daud. Karena setelah mendengar berita dari medan pertempuran, Daud menyuruh Uria untuk pulang ke rumahnya dan beristirahat di sana. Sangat jelas di sini motif dari Daud. Jika Uria pulang ke rumah dan bersetubuh dengan isterinya, maka rumor tentang kehamilan Batsyeba dapat ditekan. Namun disini narasi tidak berjalan sesuai dengan skenario Daud, Tuhan tidak memihak kepadanya sehingga Uria menolak untuk pulang ke rumahnya sampai 3 kali! Uria memilih untuk tidur di depan pintu istana bersama-sama dengan hamba raja Daud. Ketika Daud bertanya kepadanya mengapa ia tidak pulang ke rumahnya, Uria dengan tegas memberikan jawaban bahwa demi hidup dan nyawa raja Daud, ia tidak akan pulang ke rumahnya (2 Sam. 11:11). Nah, karena skenario tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, akhirnya Daud mengambil jalur lain. Uria harus mati! Dan agar terlihat lebih natural kematian Uria, Daud menulis surat dan meminta Uria yang membawanya langsung kepada Yoab! Isi suratnya agar Uria ditempatkan dalam barisan terdepan di peperangan yang sengit dan membiarkan supaya Uria mati terbunuh (ay. 14-15). Ini suatu rancangan yang sangat keji.

     Di sini kita dapat melihat bahwa dosa melahirkan dosa yang lain dan lebih keji (seperti naik level). Dan naasnya, ini dilakukan oleh seorang pemimpin negara yang dipilih oleh Tuhan sendiri, bahkan di pasal 7, Allah memilih Daud dan mengikat perjanjian dengannya. Allah telah memilih Daud untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah yang besar terhadap umat Israel, sehingga Allah berjanji untuk membuat namanya besar dan sebuah “rumah” untuk Daud, di mana rumah yang dimaksud adalah estafet kerajaan akan berasal dari keturunan Daud untuk selama-lamanya. Perjanjian TUHAN dengan Daud mengenai keluarga dan keturunannya yang akan menjadi raja atas Israel, serta janji untuk memberikan keamanan selama masa pemerintahan Daud. Perjanjian Allah kepada Daud adalah perjanjian tidak bersyarat, sehingga ketika keturunannya tidak taat, janji ini tidak akan hilang, tetapi akan terus diperbaharui oleh Allah. TUHAN memberikan suatu janji relasi yang baru antara Allah dengan keturunan Daud, adalah seperti relasi seorang bapa dengan anaknya yang menggambarkan suatu relasi yang sangat dekat, relasi yang sangat kuat. Hal ini memampukan seorang bapa dapat mendisiplinkan anaknya ketika berbuat dosa, tetapi tidak ditolak (2 Sam. 7:14).

     Dari kisah tentang kejatuhan Daud, kita dapat melihat bahwa manusia bisa saja gagal tetapi janji Allah tidak pernah gagal. Daud sebagai seorang pemimpin yang dipilih langsung oleh Allah pun dapat gagal menjadi anak Allah, tetapi di sini kita dapat melihat bahwa Allah tetap setia terhadap janji-Nya sehingga Daud tidak ditolak sebagai seorang anak. Hal ini terbukti dalam pasal 12 dikatakan bahwa Allah mengutus nabi Natan untuk menegur Daud atas segala dosa-dosanya, dan respon Daud terhadap teguran Tuhan seperti yang telah kita baca tadi di ayat 13, Daud berkata: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Saudara, Daud yang adalah seorang raja menyadari akan segala dosanya dan mengakui itu semua di hadapan Allah, dan di sini kita dapat melihat bahwa Allah beranugerah kepada Daud bukan karena dia adalah seorang raja, tetapi karena janji Allah. Allah berkata di 2 Samuel 7:14 bahwa: “Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia.” Ayat 15, “Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya.”’

     Saudara, ini janji keselamatan yang Allah berikan kepada Daud dan keturunannya, dan Allah menggenapi janji-Nya itu. Setelah Daud mengakui dosanya, Tuhan beranugerah dan mengampuni Daud. Tetapi ada konsekuensi akibat dosa yang harus ditanggung Daud. Pertama, pedang tidak akan menyingkir dari keturunannya. Kedua, isteri-isterinya akan diambil oleh Allah. Kalau Daud mengambil isteri Uria secara tersembunyi pada malam hari, isteri-isteri Daud akan diambil oleh kaum keluarganya sendiri pada waktu siang (2 Sam. 12:22, Absalom melakukan kudeta terhadap Daud, ayahnya sendiri, dan meniduri gundik-gundiknya pada siang hari di atas sotoh istana). Ketiga, anak yang dilahirkan oleh Batsyeba bagi Daud akan mati. Inilah hukuman bagi dosa-dosa Daud.

     Saudara, dua hal penting yang kembali mengingatkan kita bahwa: Pertama, anugerah Allah terbuka bagi mereka yang mengakui akan dosa-dosanya di hadapan Tuhan dengan tulus ikhlas. Janji Tuhan dalam 1 Yohanes 1:9 mengatakan bahwa “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Saudara.. TIDAK ADA dosa yang kita lakukan, yang terlalu besar untuk diampuni oleh Allah. Daud telah melakukan dosa yang sangat keji di hadapan Tuhan dan manusia. Ia berzinah dengan isteri seorang hamba yang setia. Ia melakukan perencanaan pembunuhan hambanya dengan keji. Daud layak dihukum mati karena dosa-dosanya itu. Tetapi ketika Daud menyadari akan dosanya dan mengakui semuanya di hadapan Allah, kasih karunia Allah terbuka dan pengampunan diberikan kepadanya. Kalau hari ini kita sedang bergumul dengan dosa tertentu, mari akuilah semuanya di hadapan Tuhan, maka pengampunan yang dari Allah akan diberikan kepada saudara dan saya. Pertanyaannya, mengapa Allah begitu beranugerah?

     Saudara, Allah begitu beranugerah karena Allah adalah Allah yang setia. Inilah hal penting kedua yang disampaikan melalui bagian ini. Perjanjian tidak bersyarat antara Allah dengan Daud disempurnakan melalui Tuhan Yesus Kristus, bahwa ada jaminan keselamatan yang pasti, yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia di dalam Tuhan Yesus Kristus (Yohanes 10:27-2\9 & Roma 8:35-39). Bagi setiap mereka yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat di dalam hidupnya, Allah memberikan jaminan ini, bahwa keselamatan yang Allah berikan tidak akan hilang. Sekali percaya kepada Kristus Yesus, kita akan diselamatkan. Memang benar bahwa kita masih bisa jatuh ke dalam dosa, tetapi dosa tidak akan menguasai hidup kita. Saudara, kebenaran ini memberi pengharapan bagi kita bahwa persoalan apa pun yang sedang kita hadapi sekarang ini atau di masa yang akan datang, tidak akan menjauhkan kita dari kasih Allah. Apakah itu persoalan kuliah, pergumulan tugas akhir sampai pergumulan teman hidup, masalah keluarga, masalah ekonomi, peperangan, atau pergumulan melawan dosa tertentu, dan masih banyak lagi persoalan-persoalan lainnya, saudara dan saya perlu mengingat bahwa semua itu tidak akan menjauhkan kita dari kasih Allah! Kita harus percaya bahwa kita dapat melewati setiap persoalan itu karena ada Allah yang setia, yang selalu bersama dengan kita. Amin

Kategori
Alumni

Melayani Seperti Hamba

MELAYANI SEPERTI HAMBA

     Shalom sobat Perkantas. Perkenalkan saya Ady Richard, alumni dari Perkantas Kefa, dan saat ini bekerja sebagai seorang ASN di Kementrian Kesehatan RI. Awal saya mengenal Tuhan ketika saya berada di bangku kuliah dan bergabung dengan Perkantas. Namun setelah menyelesaikan kuliah, saya mulai sibuk dengan urusan saya sendiri dalam mencari pekerjaan dan lain sebagainya, akibatnya saya mulai jarang aktif di pelayanan Perkantas hingga akhirnya saya mulai kehilangan jejak Tuhan.

     Setelah lulus kuliah saya sempat bekerja di sebuah klinik, namun karena kecelakaan motor sehingga saya harus berhenti bekerja. Tahun 2014 ketika kondisi saya sudah mulai pulih, saya kembali mencari pekerjaan dan bersyukur di awal tahun 2015 saya diterima bekerja sebagai tenaga kontrak di Kemenkes RI dan ditempatkan di Kota Kalabahi, Alor.  Selanjutnya pada tahun 2017 saya dipindah tugaskan ke perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste tepatnya di Desa Napan, sebuah desa yang berbatasan langsung dengan Oekusi, Timor Leste.

     Selama berproses menjadi seorang tenaga kontrak di daerah perbatasan saya belajar banyak hal, terutama belajar menemukan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan saya. Tuhan kembali mempertemukan saya dengan kaka-kaka dari Perkantas Kefa yang mendorong, menyemangati dan membuat saya begitu yakin bahwa bertumbuh dalam Tuhan itu sangat penting. Saya percaya bahwa Tuhan memakai mereka untuk membawa saya kembali dekat kepada-Nya. Akhirnya di tahun 2019, saya dipercaya untuk melayani sebagai Ketua Alumni di Perkantas Kefa. Di sana saya diberi kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang konteks pelayanan. Satu hal yang saya selalu ingat adalah ketika kita berkomitmen untuk melayani maka kita siap menerima segala konsekuensi, dalam artian bahwa kita harus siap untuk melayani seperti seorang hamba.

     Mata hati, iman dan pikiran saya menjadi terbuka ketika ada dalam dunia pelayanan, bahwa ketika berada dalam Tuhan, meskipun diperhadapkan dengan banyak tantangan namun kita akan selalu mendapat perlindungan yangsejatinya berasal dari Tuhan. Saya mengakui bahwa dalam dunia pelayanan, karakter, iman dan attitude saya dibentuk secara perlahan–lahan. Saya menjadi orang yang lebih sabar, tidak mudah marah dan realistis. Saya betul–betul menikmati proses bertumbuh dalam Tuhan. Yang paling utama ketika saya mengenal Tuhan lebih dekat adalah saya belajar bahwa inti/esensi Kekristenan kita adalah ketika kita bangga dengan salib yang kita pikul. Orang Kristen harus beryukur karna ada salib. Jadi jangan selalu mengeluh ketika kita memikul salib. Ketika banyak ujian hidup datang, saya merasa selalu ada kekuatan dan semangat baru yang ada dalam diri saya sendiri.

     Waktu pun berganti dan pada akhir tahun 2021, tepatnya tanggal 31 Desember saya dinyatakan lulus sebagai ASN di Kementerian Kesehatan RI, tempat di mana saya berproses selama 5 tahun. Saya merasa bahwa Tuhan itu luar biasa, Dia memberikan sesuatu tepat pada waktuNya, tidak pernah terlambat dan tidak terlalu cepat. Semua tepat dan indah pada waktu-Nya. Ketika saya sudah merasa siap dalam iman, cara berpikir dan bertingkah laku maka berkat itu pun datang dengan sendirinya. Ada rasa syukur yang tak pernah habis.

     Dalam profesi saya saat ini sebagai seorang Perawat di Kantor Karantina Kesehatan, saya berusaha untuk melayani sebagai seorang hamba yang selalu memberi diri secara total dan professional. Saya berusaha menjadi berkat bagi orang lain sebagai seorang hamba Allah sesuai dengan apa yang telah saya pelajari selama berada dalam dunia pelayanan Perkantas, bahwa ketika melayani itu bukan untuk jadi bos tapi untuk menjadi seorang hamba.

     Semoga tulisan saya ini menjadi berkat bagi rekan-rekan yang membaca. Terima kasih, Tuhan Yesus berkati.

Kategori
Kesaksian Staf

Bahagia dalam Pencobaan

BERBAHAGIA DALAM PENCOBAAN

Yakobus 1:2-8 

     Sebagai manusia kita pasti pernah atau bahkan sering dirundung dengan begitu banyak pencobaan. Kita semua tentunya tidak ingin bila pencobaan atau tantangan dalam kehidupan datang menghampiri. Pasti kita tidak akan nyaman, kita tidak akan tenang dan bisa saja membuat kita tidak fokus dalam melakukan apa pun. Dalam suratnya kepada jemaat di perantauan, Yakobus berkata “anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila mereka berada dalam pencobaan”. Dari pernyataannya ini, apakah Yakobus sedang mengajarkan kepada jemaat di perantauan bahwa syarat menjadi orang yang berbahagia harus dengan mengalami pencobaan? Tentunya tidak demikian. Jika kita mencermati bagian ini, Yakobus mau mengajak pendengarnya untuk melihat dari sudut pandang orang percaya agar mereka mengetahui apa yang menjadi maksud Tuhan melalui pencobaan yang dialami. Nasihat Yakobus ini pun datang kepada kita bahwa sebagai orang percaya kita harus menganggap pencobaan yang kita alami dalam hidup ini sebagai suatu kebahagiaan. Mengapa demikian? Dalam perikop yang menjadi perenungan ini, dapat ditemukan sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa sebagai orang percaya kita harus menganggap pencobaan yang kita alami sebagai suatu kebahagiaan.

  1. Pencobaan Membuat Kita Semakin Bertekun dalam Iman

     Dalam nats ini dikatakan bahwa “pencobaan yang ada akan membawa kita pada ketekunan iman”. Apa maksud perkataan Yakobus ini? Mari kita lihat kembali ayat 2 dan 3, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagi pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan”. Sebagai orang percaya, kita tentunya ingin agar tetap setia atau tekun dalam iman kita kepada Allah, tetapi dalam perjalanan hidup banyak kali pencobaan yang datang menjadi faktor penentu apakah kita mau tetap bertekun atau tidak, padahal kita dipanggil untuk tetap percaya dalam segala keadaan. Itu sebabnya Yakobus kembali mengingatkan kita bahwa seharusnya pencobaan-pencobaan yang ada membuat kita makin bertekun dalam iman.

  1. Pencobaan Menghasilkan Hikmat

     Alasan kedua mengapa pencobaan yang dialami dalam kehidupan orang percaya harus dianggap sebagai suatu kebahagiaan dapat kita lihat pada ayat yang ke-5 “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya”. Ayat ini sangatlah menarik karena Yakobus mengajak jemaat di perantauan agar ketika diperhadapkan dengan pencobaan maka mereka harus meminta hikmat kepada Allah. Mengapa? Karena Allah itu murah hati dan tidak akan membangkit-bangkitkan atau memperhitungkan kesalahan dan dosa kita, maka hikmat tersebut akan diberikan kepada kita.

     Pergumulan yang kita alami bisa membuat kita kecewa dan frustasi saat kita tidak bisa menyelesaikannya. Tetapi ketika kita meminta hikmat kepada Allah, maka Ia adalah Allah yang murah hati, Allah yang tidak membangkit-bangkitkan, yang akan melimpahkan hikmat kepada kita sehingga kita bisa mengatasi setiap kesulitan yang kita alami. Marilah kita meminta hikmat Tuhan ketika mengalami persoalan hidup, niscaya hikmat kita akan semakin bertambah, maka kita pun akan berbahagia dan bertambah pula sukacita kita. Dari pergumulan yang ada, marilah kita melihat dengan cara pandang orang percaya bahwa pencobaan yang kita alami harus dipandang sebagai suatu kebahagiaan karena membuat kita semakin bertekun dalam iman, juga semakin berhikmat.

Kategori
Kesaksian Staf

Murid yang Bertumbuh

 

MURID YANG BERTUMBUH

Efesus 4:11-16

     Surat Efesus ini ditulis oleh Rasul Paulus Ketika dia sedang berada dalam penjara. Ketika Paulus menuliskan surat ini tentunya Paulus memiliki tujuan atau motivasi tersendiri. Paulus menulis surat ini karena mlihat kondisi jemaat di Efesus yang menyembah Dewi Artemis atau Dewi kesuburan. Selain itu, jemaat di Efesus juga lebih tunduk terhadap Kaisar. Melihat kondisi ini tergeraklah hati Paulus untuk mengirimkan surat kepada jemaat di Efesus. Surat kiriman Paulus ini berisikan tentang nasihat, perintah dan himbauan. Salah satu nasihat yang dituliskan Paulus seperti yang kita baca dari bagian Firman Tuhan saat ini (Ef. 4:11-16). Paulus menjelaskan bahwa Tuhan memiliki harapan dan tujuan yang luar biasa bagi umat-Nya, yaitu semua anak-anakNya dapat bertumbuh mencapai kedewasaan yang penuh yaitu kepenuhan Kristus (Ef. 4:13).

     Pertumbuhan rohani merupakan hasil dari pembentukan karakter yang dilakukan oleh Allah seumur hidup kita. Kita tidak hanya dituntut untuk percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, tetapi kita juga harus menunjukkan suatu pertumbuhan ke arah Kristus yang semakin serupa dengan-Nya. Pertumbuhan yang serupa dengan Kristus ini harus terlihat di dalam totalitas hidup kita setiap hari. Inilah yang menunjukan bahwa kita hidup dan bertumbuh. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana ciri seorang murid yang bertumbuh? Ciri murid yang bertumbuh ialah:

  1. Memiliki Pengenalan yang Mendalam dengan Allah

     Bagaimana caranya agar kita dapat mengenal Allah secara mendalam? Pengenalan akan Allah adalah salah satu hal yang paling utama dalam hidup setiap orang percaya. Pengenalan akan Allah bukan hanya secara pengetahuan (otak), melainkan pengenalan akan Allah secara hubungan (relasi) dengan Allah. Pengenalan ini merupakan pengenalan yang intim dengan Allah yaitu melalui membaca dan merenungkan Firman Tuhan, Saat Teduh, dan doa-doa kita yang menghasilkan perubahan dan penyerahan tanpa batas dari diri kita. Iman yang hidup dan bertumbuh adalah iman yang semakin dewasa secara rohani dari hari ke hari.

  1. Memiliki Hidup yang Berbuah

     Yesus adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya. Tuhan mau agar kita berbuah. Buah yang dimaksudkan diantanya buah roh, buah pelayanan dan buah jiwa-jiwa yang diselamatkan (melalui kesaksian/pengijilan). Hanya orang yang melekat pada Kristus dan yang terus dibersihkan yang dapat terus berbuah (Yoh. 15:2-4).

  1. Memiliki Ketabahan dalam Menjalani Proses Allah

     Tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi murid kristus tidaklah mudah. Terlebih menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan. Ada banyak tantangan dan rintangan, tetapi murid yang bertumbuh adalah murid yang tetap sabar dan tabah dalam menanggung segala perkara (1 Tes. 1:4). Ketabahan di sini bukan sekedar menerima segala persoalan yang ada tetapi juga mengubahnya menjadi sarana untuk melibatkan Allah dalam setiap proses yang dialami.

4.Memiliki Hidup yang Memberi dan Melayani

      Setiap murid Kristus yang bertumbuh selalu berprinsip bahwa aku diberkati untuk menjadi berkat bagi sesama. Sadarilah bahwa tujuan Tuhan bagi kita bukan sekedar kita menjadi berkat bagi orang lain melainkan agar kita mencapai satu kesatuan iman yang penuh dan pengetahuan yang benar akan Allah, kedewasaan rohani yang penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.

     Rekan-rekan, ciri seorang murid Kristus yang bertumbuh adalah memiliki pengenalan yang mendalam dengan Allah, memiliki hidup yang berbuah, memiliki ketabahan dalam menjalani proses Allah dan memiliki hidup yang memberi dan melayani. Marilah kita menjadi murid yang terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan terus menghasilkan buah yang benar sesuai Firman Tuhan, terus sabar dalam menjalani proses yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita serta teruslah memiliki hidup yang memberi dan melayani karena itulah wujud/ciri murid yang bertumbuh. Amin