Kategori
Kesaksian Staf

Memaksimalkan Sosial Media untuk Kemuliaan Tuhan

Memaksimalkan Media Sosial untuk Kemuliaan Tuhan

Aku menghendaki, saudara–saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan injil, sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus. Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata– kata tentang Firman Allah dengan tidak takut (Filipi 1:12-14).

     Keadaan yang terbatas bisa membuat kita menjadi kreatif. Ketika Paulus menulis surat Filipi ia sedang berada di dalam penjara. Keadaan terpenjara harusnya menghambat Paulus sehingga ia tidak bisa memberitakan Injil seperti sebelumnya. Tetapi dalam surat ini kita tidak melihat pengeluhan tentang bagaimana ia kesulitan memberitakan Injil dan juga melakukan penggembalaan, tetapi justru ia menemukan cara untuk menggembalakan murid–murid dan jemaat lewat surat yang sangat mahal itu.

     Proses pembuatan surat pada waktu itu tidak seperti kita sekarang. Waktu itu menulis adalah pekerjaan penting dan membutuhkan biaya yang sangat mahal. Menurut para ahli, surat Filemon yang pendek itu bisa memakan biaya sampai 44 Juta Rupiah jika disamakan dengan mata uang kita sekarang. Apalagi surat Filipi atau surat Roma yang panjang itu.

     Tidak hanya memberikan pembinaan, lewat kesaksian dalam suratnya meski dalam penjara Paulus tetap melakukan pekerjaan penginjilan, dan di ayat 12 Paulus mengatakan bahwa apa yang terjadi atasnya justru menyebabkan kemajuan Injil. Karenanya Injil makin diberitakan di kalangan kerajaan dan karena teladannya makin banyak orang semakin berani memberitakan Injil. Paulus tidak menjadikan tantangan sebagai hal yang menghambat pelayanannya, tetapi tantangan sebagai cara pernyataan kemuliaan Tuhan.

     Keadaan di zaman sekarang berbeda dengan keadaan Paulus pada waktu itu. Dengan adanya internet kita justru menjadi tidak terbatas. Saat ini kebanyakan orang memiliki akun media sosial. Kehadiran Media sosial juga menjadi sarana yang sangat baik untuk bisa menghubungkan kita dengan orang yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal. Seharusnya dalam kondisi yang tidak terbatas ini, Injil semakin mudah diberitakan. Tetapi kenyataannya tidak demikian.

     Banyak faktor yang membuat Injil tidak mengalami kemajuan signifikan di tengah perkembangan teknologi ini. Ada faktor eksternal yang mana makin banyak juga konten-konten negatif yang beredar di internet. Godaan dosa kini hanya berada di ujung jari kita. Tetapi selain itu, faktor internal dari dalam diri orang percaya juga menjadi masalah. Orang percaya menggunakan media sosialnya tidak untuk kepentingan Injil.

     Sebagian kita mungkin berpikir bahwa tugas untuk memberitakan Injil di sosial media adalah tanggung jawab lembaga agama seperti gereja maupun yayasan seperti Perkantas, LPMI dan lain-lain. Namun kita perlu ingat bahwa tanggung jawab memberitakan Injil, Tuhan berikan kepada semua orang percaya. Amanat Agung Yesus berikan kepada semua orang yang beroleh keselamatan karena pengorbananNya. Karena itu kemajuan Injil adalah tanggung jawab kita bersama.

     Selain itu ada kesalahan berpikir pada kebanyakan orang percaya yang mencoba membedakan kehidupan rohani dan kehidupan sekuler. Bagi sebagian orang media sosial merupakan tempat berbagi hal-hal yang bersifat pribadi dan tidak harus berhubungan dengan nilai-nilai kekristenan. Cara berpikir seperti ini akhirnya membuat kita hanya memposting hal-hal yang menurut kita menyenangkan dan malah secara tidak sadar justru media sosial dijadikan sebagai tempat untuk pamer. Masalah terbesar dari pamer adalah kita mengharapkan orang lain yang melihat menjadi iri. Tentu ini adalah cara yang salah dalam menghidupi identitas kita sebagai garam dan terang dunia.

     Kita perlu ingat identitas kita dalam Kristus agar kita mampu bertindak dengan tepat. Sebagai garam dan terang dunia, seluruh bagian hidup kita harus kita pakai untuk menjadi berkat, termasuk kehidupan di media sosial. Karena itu kita harus memperhatikan cara kita menggunakan media sosial agar kehidupan kita bisa menjadi berkat. Kita perlu berpikir keras bagaimana cara menggunakan sosial media agar Injil bisa diberitakan dan nama Tuhan dipermuliakan melalui kehidupan kita.

Kategori
Kesaksian Staf

Pengakuan Dosa dan Anugerah Allah

Pengakuan Dosa dan Anugerah Allah

2 Samuel 11-12

     Kisah tentang raja Daud sudah tidak asing lagi bagi kita. Sedari kecil, kita sudah mendengar cerita tentangnya. Daud selalu digambarkan sebagai seorang raja yang elok parasnya, berani, kuat, takut akan Tuhan dan bisa memproduksi lagu yang bagus sampai populer di zamannya. Bisa dibilang, Daud adalah seorang yang perfect dan kalau ada di zaman sekarang, mungkin raja Daud pasti saingan berat dengan V, Jungkook BTS, dkk.. Bagaimana tidak? Ketika Daud mulai memainkan alat musik dan bernyanyi, Saul yang dikuasai iblis saja bisa merasa tenang dan damai.. kita bisa membaca sendiri kisah tentang raja Daud dalam kitab 1 dan 2 Samuel.

     Di sana kita akan menemukan cerita tentang Daud dari sebelum menjadi raja, bagaimana dia dipilih, kisah tentang keperkasaannya dan masih banyak lagi. Namun, kita perlu memperhatikan bahwa kitab Samuel ditulis bukan untuk kepentingan sejarah atau sebagai kitab biografi, tetapi tujuan utama penulisan kitab ini bersifat teologis, dimana memberikan pemahaman bagi kita tentang penetapan perjanjian Allah dengan Daud (2 Sam. 7). Karena penulisan kitab ini bersifat teologis, penulis tidak hanya menceritakan tentang hal-hal baik dan kejayaan raja Daud, tetapi juga tentang kejatuhannya, meskipun ia seorang raja yang namanya masyur dan kerajaannya kokoh. Di sini penulis ingin agar kita dapat melihat karya Tuhan di dalam kisah hidup Daud, apa pun itu.

     Kejatuhan raja Daud dimulai ketika ia sedang berjalan-jalan di atas sotoh istana dan ketika ia melihat ke bawah, tampak ada seorang wanita yang sedang mandi. Alkitab menulis bahwa wanita itu elok parasnya dan Daud mulai tertarik. Ketertarikan raja Daud membuatnya ingin tahu, mulai mencari tahu tentang siapa wanita cantik yang baru dilihatnya (gambaran kita pada umumnya kalau mulai tertarik dengan lawan jenis). Setelah dicari tahu, wanita cantik ini rupanya bernama Batsyeba dan ternyata sudah bersuami. Nama suaminya Uria, orang Het, dan ia seorang perwira yang sedang berada di medan pertempuran.

     Di sini konflik mulai muncul. Meskipun Daud sudah tau status Batsyeba, ia tidak dapat menahan hatinya. Keinginan untuk memiliki Batsyeba semakin besar sehingga ia menyuruh memanggil perempuan itu, lalu tidur dengan dia. Masalah makin melebar ketika Daud mendapat pesan dari Batsyeba bahwa ia sekarang tengah mengandung. Berita ini tentu membuat Daud makin gundah karena jika rumor ini beredar, nama baik keduanya dipertaruhkan dan dihukum mati (Imamat 20:10). Oleh karena itu, Daud mulai memutar otak.

     Daud memanfaatkan statusnya sebagai seorang raja untuk meminta Uria kembali dari medan pertempuran dengan alasan yang tidak jelas. Di ayat 7, dikatakan bahwa Daud menanyakan keadaan Yoab, panglima perangnya, menanyakan tentang keadaan tentara dan keadaan perang kepada Uria. Hal ini terlihat seperti terlalu dipaksakan. Jika Daud benar-benar ingin mengetahui keadaan di sana, tidak perlu Uria diundang untuk datang kepada raja. Orang yang tadinya Daud utus untuk meminta Uria pulang bisa menyampaikan akan hal itu. Atau, biasanya suatu kerajaan memiliki seorang utusan yang tugasnya untuk menyampaikan/mencari tahu tentang kondisi perang dan tentaranya.

     Jelas ini hanya alibi dari Daud. Karena setelah mendengar berita dari medan pertempuran, Daud menyuruh Uria untuk pulang ke rumahnya dan beristirahat di sana. Sangat jelas di sini motif dari Daud. Jika Uria pulang ke rumah dan bersetubuh dengan isterinya, maka rumor tentang kehamilan Batsyeba dapat ditekan. Namun disini narasi tidak berjalan sesuai dengan skenario Daud, Tuhan tidak memihak kepadanya sehingga Uria menolak untuk pulang ke rumahnya sampai 3 kali! Uria memilih untuk tidur di depan pintu istana bersama-sama dengan hamba raja Daud. Ketika Daud bertanya kepadanya mengapa ia tidak pulang ke rumahnya, Uria dengan tegas memberikan jawaban bahwa demi hidup dan nyawa raja Daud, ia tidak akan pulang ke rumahnya (2 Sam. 11:11). Nah, karena skenario tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, akhirnya Daud mengambil jalur lain. Uria harus mati! Dan agar terlihat lebih natural kematian Uria, Daud menulis surat dan meminta Uria yang membawanya langsung kepada Yoab! Isi suratnya agar Uria ditempatkan dalam barisan terdepan di peperangan yang sengit dan membiarkan supaya Uria mati terbunuh (ay. 14-15). Ini suatu rancangan yang sangat keji.

     Di sini kita dapat melihat bahwa dosa melahirkan dosa yang lain dan lebih keji (seperti naik level). Dan naasnya, ini dilakukan oleh seorang pemimpin negara yang dipilih oleh Tuhan sendiri, bahkan di pasal 7, Allah memilih Daud dan mengikat perjanjian dengannya. Allah telah memilih Daud untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah yang besar terhadap umat Israel, sehingga Allah berjanji untuk membuat namanya besar dan sebuah “rumah” untuk Daud, di mana rumah yang dimaksud adalah estafet kerajaan akan berasal dari keturunan Daud untuk selama-lamanya. Perjanjian TUHAN dengan Daud mengenai keluarga dan keturunannya yang akan menjadi raja atas Israel, serta janji untuk memberikan keamanan selama masa pemerintahan Daud. Perjanjian Allah kepada Daud adalah perjanjian tidak bersyarat, sehingga ketika keturunannya tidak taat, janji ini tidak akan hilang, tetapi akan terus diperbaharui oleh Allah. TUHAN memberikan suatu janji relasi yang baru antara Allah dengan keturunan Daud, adalah seperti relasi seorang bapa dengan anaknya yang menggambarkan suatu relasi yang sangat dekat, relasi yang sangat kuat. Hal ini memampukan seorang bapa dapat mendisiplinkan anaknya ketika berbuat dosa, tetapi tidak ditolak (2 Sam. 7:14).

     Dari kisah tentang kejatuhan Daud, kita dapat melihat bahwa manusia bisa saja gagal tetapi janji Allah tidak pernah gagal. Daud sebagai seorang pemimpin yang dipilih langsung oleh Allah pun dapat gagal menjadi anak Allah, tetapi di sini kita dapat melihat bahwa Allah tetap setia terhadap janji-Nya sehingga Daud tidak ditolak sebagai seorang anak. Hal ini terbukti dalam pasal 12 dikatakan bahwa Allah mengutus nabi Natan untuk menegur Daud atas segala dosa-dosanya, dan respon Daud terhadap teguran Tuhan seperti yang telah kita baca tadi di ayat 13, Daud berkata: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Saudara, Daud yang adalah seorang raja menyadari akan segala dosanya dan mengakui itu semua di hadapan Allah, dan di sini kita dapat melihat bahwa Allah beranugerah kepada Daud bukan karena dia adalah seorang raja, tetapi karena janji Allah. Allah berkata di 2 Samuel 7:14 bahwa: “Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia.” Ayat 15, “Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya.”’

     Saudara, ini janji keselamatan yang Allah berikan kepada Daud dan keturunannya, dan Allah menggenapi janji-Nya itu. Setelah Daud mengakui dosanya, Tuhan beranugerah dan mengampuni Daud. Tetapi ada konsekuensi akibat dosa yang harus ditanggung Daud. Pertama, pedang tidak akan menyingkir dari keturunannya. Kedua, isteri-isterinya akan diambil oleh Allah. Kalau Daud mengambil isteri Uria secara tersembunyi pada malam hari, isteri-isteri Daud akan diambil oleh kaum keluarganya sendiri pada waktu siang (2 Sam. 12:22, Absalom melakukan kudeta terhadap Daud, ayahnya sendiri, dan meniduri gundik-gundiknya pada siang hari di atas sotoh istana). Ketiga, anak yang dilahirkan oleh Batsyeba bagi Daud akan mati. Inilah hukuman bagi dosa-dosa Daud.

     Saudara, dua hal penting yang kembali mengingatkan kita bahwa: Pertama, anugerah Allah terbuka bagi mereka yang mengakui akan dosa-dosanya di hadapan Tuhan dengan tulus ikhlas. Janji Tuhan dalam 1 Yohanes 1:9 mengatakan bahwa “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Saudara.. TIDAK ADA dosa yang kita lakukan, yang terlalu besar untuk diampuni oleh Allah. Daud telah melakukan dosa yang sangat keji di hadapan Tuhan dan manusia. Ia berzinah dengan isteri seorang hamba yang setia. Ia melakukan perencanaan pembunuhan hambanya dengan keji. Daud layak dihukum mati karena dosa-dosanya itu. Tetapi ketika Daud menyadari akan dosanya dan mengakui semuanya di hadapan Allah, kasih karunia Allah terbuka dan pengampunan diberikan kepadanya. Kalau hari ini kita sedang bergumul dengan dosa tertentu, mari akuilah semuanya di hadapan Tuhan, maka pengampunan yang dari Allah akan diberikan kepada saudara dan saya. Pertanyaannya, mengapa Allah begitu beranugerah?

     Saudara, Allah begitu beranugerah karena Allah adalah Allah yang setia. Inilah hal penting kedua yang disampaikan melalui bagian ini. Perjanjian tidak bersyarat antara Allah dengan Daud disempurnakan melalui Tuhan Yesus Kristus, bahwa ada jaminan keselamatan yang pasti, yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia di dalam Tuhan Yesus Kristus (Yohanes 10:27-2\9 & Roma 8:35-39). Bagi setiap mereka yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat di dalam hidupnya, Allah memberikan jaminan ini, bahwa keselamatan yang Allah berikan tidak akan hilang. Sekali percaya kepada Kristus Yesus, kita akan diselamatkan. Memang benar bahwa kita masih bisa jatuh ke dalam dosa, tetapi dosa tidak akan menguasai hidup kita. Saudara, kebenaran ini memberi pengharapan bagi kita bahwa persoalan apa pun yang sedang kita hadapi sekarang ini atau di masa yang akan datang, tidak akan menjauhkan kita dari kasih Allah. Apakah itu persoalan kuliah, pergumulan tugas akhir sampai pergumulan teman hidup, masalah keluarga, masalah ekonomi, peperangan, atau pergumulan melawan dosa tertentu, dan masih banyak lagi persoalan-persoalan lainnya, saudara dan saya perlu mengingat bahwa semua itu tidak akan menjauhkan kita dari kasih Allah! Kita harus percaya bahwa kita dapat melewati setiap persoalan itu karena ada Allah yang setia, yang selalu bersama dengan kita. Amin

Kategori
Alumni

Melayani Seperti Hamba

MELAYANI SEPERTI HAMBA

     Shalom sobat Perkantas. Perkenalkan saya Ady Richard, alumni dari Perkantas Kefa, dan saat ini bekerja sebagai seorang ASN di Kementrian Kesehatan RI. Awal saya mengenal Tuhan ketika saya berada di bangku kuliah dan bergabung dengan Perkantas. Namun setelah menyelesaikan kuliah, saya mulai sibuk dengan urusan saya sendiri dalam mencari pekerjaan dan lain sebagainya, akibatnya saya mulai jarang aktif di pelayanan Perkantas hingga akhirnya saya mulai kehilangan jejak Tuhan.

     Setelah lulus kuliah saya sempat bekerja di sebuah klinik, namun karena kecelakaan motor sehingga saya harus berhenti bekerja. Tahun 2014 ketika kondisi saya sudah mulai pulih, saya kembali mencari pekerjaan dan bersyukur di awal tahun 2015 saya diterima bekerja sebagai tenaga kontrak di Kemenkes RI dan ditempatkan di Kota Kalabahi, Alor.  Selanjutnya pada tahun 2017 saya dipindah tugaskan ke perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste tepatnya di Desa Napan, sebuah desa yang berbatasan langsung dengan Oekusi, Timor Leste.

     Selama berproses menjadi seorang tenaga kontrak di daerah perbatasan saya belajar banyak hal, terutama belajar menemukan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan saya. Tuhan kembali mempertemukan saya dengan kaka-kaka dari Perkantas Kefa yang mendorong, menyemangati dan membuat saya begitu yakin bahwa bertumbuh dalam Tuhan itu sangat penting. Saya percaya bahwa Tuhan memakai mereka untuk membawa saya kembali dekat kepada-Nya. Akhirnya di tahun 2019, saya dipercaya untuk melayani sebagai Ketua Alumni di Perkantas Kefa. Di sana saya diberi kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang konteks pelayanan. Satu hal yang saya selalu ingat adalah ketika kita berkomitmen untuk melayani maka kita siap menerima segala konsekuensi, dalam artian bahwa kita harus siap untuk melayani seperti seorang hamba.

     Mata hati, iman dan pikiran saya menjadi terbuka ketika ada dalam dunia pelayanan, bahwa ketika berada dalam Tuhan, meskipun diperhadapkan dengan banyak tantangan namun kita akan selalu mendapat perlindungan yangsejatinya berasal dari Tuhan. Saya mengakui bahwa dalam dunia pelayanan, karakter, iman dan attitude saya dibentuk secara perlahan–lahan. Saya menjadi orang yang lebih sabar, tidak mudah marah dan realistis. Saya betul–betul menikmati proses bertumbuh dalam Tuhan. Yang paling utama ketika saya mengenal Tuhan lebih dekat adalah saya belajar bahwa inti/esensi Kekristenan kita adalah ketika kita bangga dengan salib yang kita pikul. Orang Kristen harus beryukur karna ada salib. Jadi jangan selalu mengeluh ketika kita memikul salib. Ketika banyak ujian hidup datang, saya merasa selalu ada kekuatan dan semangat baru yang ada dalam diri saya sendiri.

     Waktu pun berganti dan pada akhir tahun 2021, tepatnya tanggal 31 Desember saya dinyatakan lulus sebagai ASN di Kementerian Kesehatan RI, tempat di mana saya berproses selama 5 tahun. Saya merasa bahwa Tuhan itu luar biasa, Dia memberikan sesuatu tepat pada waktuNya, tidak pernah terlambat dan tidak terlalu cepat. Semua tepat dan indah pada waktu-Nya. Ketika saya sudah merasa siap dalam iman, cara berpikir dan bertingkah laku maka berkat itu pun datang dengan sendirinya. Ada rasa syukur yang tak pernah habis.

     Dalam profesi saya saat ini sebagai seorang Perawat di Kantor Karantina Kesehatan, saya berusaha untuk melayani sebagai seorang hamba yang selalu memberi diri secara total dan professional. Saya berusaha menjadi berkat bagi orang lain sebagai seorang hamba Allah sesuai dengan apa yang telah saya pelajari selama berada dalam dunia pelayanan Perkantas, bahwa ketika melayani itu bukan untuk jadi bos tapi untuk menjadi seorang hamba.

     Semoga tulisan saya ini menjadi berkat bagi rekan-rekan yang membaca. Terima kasih, Tuhan Yesus berkati.

Kategori
Kesaksian Staf

Bahagia dalam Pencobaan

BERBAHAGIA DALAM PENCOBAAN

Yakobus 1:2-8 

     Sebagai manusia kita pasti pernah atau bahkan sering dirundung dengan begitu banyak pencobaan. Kita semua tentunya tidak ingin bila pencobaan atau tantangan dalam kehidupan datang menghampiri. Pasti kita tidak akan nyaman, kita tidak akan tenang dan bisa saja membuat kita tidak fokus dalam melakukan apa pun. Dalam suratnya kepada jemaat di perantauan, Yakobus berkata “anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila mereka berada dalam pencobaan”. Dari pernyataannya ini, apakah Yakobus sedang mengajarkan kepada jemaat di perantauan bahwa syarat menjadi orang yang berbahagia harus dengan mengalami pencobaan? Tentunya tidak demikian. Jika kita mencermati bagian ini, Yakobus mau mengajak pendengarnya untuk melihat dari sudut pandang orang percaya agar mereka mengetahui apa yang menjadi maksud Tuhan melalui pencobaan yang dialami. Nasihat Yakobus ini pun datang kepada kita bahwa sebagai orang percaya kita harus menganggap pencobaan yang kita alami dalam hidup ini sebagai suatu kebahagiaan. Mengapa demikian? Dalam perikop yang menjadi perenungan ini, dapat ditemukan sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa sebagai orang percaya kita harus menganggap pencobaan yang kita alami sebagai suatu kebahagiaan.

  1. Pencobaan Membuat Kita Semakin Bertekun dalam Iman

     Dalam nats ini dikatakan bahwa “pencobaan yang ada akan membawa kita pada ketekunan iman”. Apa maksud perkataan Yakobus ini? Mari kita lihat kembali ayat 2 dan 3, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagi pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan”. Sebagai orang percaya, kita tentunya ingin agar tetap setia atau tekun dalam iman kita kepada Allah, tetapi dalam perjalanan hidup banyak kali pencobaan yang datang menjadi faktor penentu apakah kita mau tetap bertekun atau tidak, padahal kita dipanggil untuk tetap percaya dalam segala keadaan. Itu sebabnya Yakobus kembali mengingatkan kita bahwa seharusnya pencobaan-pencobaan yang ada membuat kita makin bertekun dalam iman.

  1. Pencobaan Menghasilkan Hikmat

     Alasan kedua mengapa pencobaan yang dialami dalam kehidupan orang percaya harus dianggap sebagai suatu kebahagiaan dapat kita lihat pada ayat yang ke-5 “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya”. Ayat ini sangatlah menarik karena Yakobus mengajak jemaat di perantauan agar ketika diperhadapkan dengan pencobaan maka mereka harus meminta hikmat kepada Allah. Mengapa? Karena Allah itu murah hati dan tidak akan membangkit-bangkitkan atau memperhitungkan kesalahan dan dosa kita, maka hikmat tersebut akan diberikan kepada kita.

     Pergumulan yang kita alami bisa membuat kita kecewa dan frustasi saat kita tidak bisa menyelesaikannya. Tetapi ketika kita meminta hikmat kepada Allah, maka Ia adalah Allah yang murah hati, Allah yang tidak membangkit-bangkitkan, yang akan melimpahkan hikmat kepada kita sehingga kita bisa mengatasi setiap kesulitan yang kita alami. Marilah kita meminta hikmat Tuhan ketika mengalami persoalan hidup, niscaya hikmat kita akan semakin bertambah, maka kita pun akan berbahagia dan bertambah pula sukacita kita. Dari pergumulan yang ada, marilah kita melihat dengan cara pandang orang percaya bahwa pencobaan yang kita alami harus dipandang sebagai suatu kebahagiaan karena membuat kita semakin bertekun dalam iman, juga semakin berhikmat.

Kategori
Kesaksian Staf

Murid yang Bertumbuh

 

MURID YANG BERTUMBUH

Efesus 4:11-16

     Surat Efesus ini ditulis oleh Rasul Paulus Ketika dia sedang berada dalam penjara. Ketika Paulus menuliskan surat ini tentunya Paulus memiliki tujuan atau motivasi tersendiri. Paulus menulis surat ini karena mlihat kondisi jemaat di Efesus yang menyembah Dewi Artemis atau Dewi kesuburan. Selain itu, jemaat di Efesus juga lebih tunduk terhadap Kaisar. Melihat kondisi ini tergeraklah hati Paulus untuk mengirimkan surat kepada jemaat di Efesus. Surat kiriman Paulus ini berisikan tentang nasihat, perintah dan himbauan. Salah satu nasihat yang dituliskan Paulus seperti yang kita baca dari bagian Firman Tuhan saat ini (Ef. 4:11-16). Paulus menjelaskan bahwa Tuhan memiliki harapan dan tujuan yang luar biasa bagi umat-Nya, yaitu semua anak-anakNya dapat bertumbuh mencapai kedewasaan yang penuh yaitu kepenuhan Kristus (Ef. 4:13).

     Pertumbuhan rohani merupakan hasil dari pembentukan karakter yang dilakukan oleh Allah seumur hidup kita. Kita tidak hanya dituntut untuk percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, tetapi kita juga harus menunjukkan suatu pertumbuhan ke arah Kristus yang semakin serupa dengan-Nya. Pertumbuhan yang serupa dengan Kristus ini harus terlihat di dalam totalitas hidup kita setiap hari. Inilah yang menunjukan bahwa kita hidup dan bertumbuh. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana ciri seorang murid yang bertumbuh? Ciri murid yang bertumbuh ialah:

  1. Memiliki Pengenalan yang Mendalam dengan Allah

     Bagaimana caranya agar kita dapat mengenal Allah secara mendalam? Pengenalan akan Allah adalah salah satu hal yang paling utama dalam hidup setiap orang percaya. Pengenalan akan Allah bukan hanya secara pengetahuan (otak), melainkan pengenalan akan Allah secara hubungan (relasi) dengan Allah. Pengenalan ini merupakan pengenalan yang intim dengan Allah yaitu melalui membaca dan merenungkan Firman Tuhan, Saat Teduh, dan doa-doa kita yang menghasilkan perubahan dan penyerahan tanpa batas dari diri kita. Iman yang hidup dan bertumbuh adalah iman yang semakin dewasa secara rohani dari hari ke hari.

  1. Memiliki Hidup yang Berbuah

     Yesus adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya. Tuhan mau agar kita berbuah. Buah yang dimaksudkan diantanya buah roh, buah pelayanan dan buah jiwa-jiwa yang diselamatkan (melalui kesaksian/pengijilan). Hanya orang yang melekat pada Kristus dan yang terus dibersihkan yang dapat terus berbuah (Yoh. 15:2-4).

  1. Memiliki Ketabahan dalam Menjalani Proses Allah

     Tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi murid kristus tidaklah mudah. Terlebih menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan. Ada banyak tantangan dan rintangan, tetapi murid yang bertumbuh adalah murid yang tetap sabar dan tabah dalam menanggung segala perkara (1 Tes. 1:4). Ketabahan di sini bukan sekedar menerima segala persoalan yang ada tetapi juga mengubahnya menjadi sarana untuk melibatkan Allah dalam setiap proses yang dialami.

4.Memiliki Hidup yang Memberi dan Melayani

      Setiap murid Kristus yang bertumbuh selalu berprinsip bahwa aku diberkati untuk menjadi berkat bagi sesama. Sadarilah bahwa tujuan Tuhan bagi kita bukan sekedar kita menjadi berkat bagi orang lain melainkan agar kita mencapai satu kesatuan iman yang penuh dan pengetahuan yang benar akan Allah, kedewasaan rohani yang penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.

     Rekan-rekan, ciri seorang murid Kristus yang bertumbuh adalah memiliki pengenalan yang mendalam dengan Allah, memiliki hidup yang berbuah, memiliki ketabahan dalam menjalani proses Allah dan memiliki hidup yang memberi dan melayani. Marilah kita menjadi murid yang terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan terus menghasilkan buah yang benar sesuai Firman Tuhan, terus sabar dalam menjalani proses yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita serta teruslah memiliki hidup yang memberi dan melayani karena itulah wujud/ciri murid yang bertumbuh. Amin

Kategori
Kesaksian Staf

 Berpengharapan Kepada Allah

Mazmur 91:1-2, 14-16

“Life is never flat”, begitu kira-kira slogan snack Chitato yang selalu terngiang setiap kali menyebut namanya atau memakannya. Sepaham dengan slogan ini, kehidupan memang tidak berjalan datar. Terkadang kita melalui hal-hal yang baik, namun ada saat di mana kita juga merasakan hal-hal yang buruk, seperti mengalami kehilangan, ditinggalkan, dimusuhi, dikhianati dan difitnah.

Tidak terkecuali dengan kita sebagai orang percaya, masalah-masalah juga akan singgah dalam hidup kita. Tidak sedikit orang Kristen yang mengaitkan masalah yang mereka hadapi dengan pelayanan yang telah mereka lakukan untuk Tuhan. Mereka mengadu pada Tuhan mengapa mengijinkan hal-hal buruk terjadi dalam hidup, padahal mereka telah melakukan yang terbaik untuk Tuhan. Seakan-akan Tuhan bisa diatur-atur dengan perbuatan baik kita untuk membalasnya dengan memenuhi keinginan-keinginan kita.

Justru sebagai orang percaya kita tidak boleh menyerah pada masalah, bahkan sampai menyalahkan Tuhan atas keadaan buruk yang kita alami. Kita percaya bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu, termasuk hal-hal buruk untuk mendatangkan kebaikan bagi kita anak-anakNya. Respon yang harus kita tunjukkan adalah menaruh pengharapan kepada Dia, yang lebih tahu apa yang terbaik bagi kita. Ada tiga hal yang membuat kita menjadi orang-orang yang berpengharapan kepada Allah dalam segala kondisi hidup.

Yang pertama, memiliki hati yang melekat kepada Tuhan. Dalam terjemahan yang lain memakai kata mengasihi dan mempercayai Allah. Ini berarti orang yang memiliki hati melekat kepada Tuhan adalah mereka yang mengasihi Allah dan mempercayaiNya. Apa yang Tuhan katakan tentang orang yang mengasihi Dia? Dalam Yohanes 14:21, Yesus mengatakan bahwa barangsiapa memegang perintahNya dan melakukannya, dialah yang mengasihiNya. Seseorang dengan hati melekat kepada Tuhan adalah dia yang melakukan firman Tuhan. Dialah orang yang berpengharapan kepada Tuhan karena mempercayaiNya dengan melakukan firmanNya. Orang yang melakukan firman Tuhan, pastinya ia perlu mengenal Tuhan dahulu.

Oleh karena itu, hal kedua yang membuat kita menjadi orang-orang berpengharapan adalah dengan mengenal Tuhan dan firmanNya. Pengenalan akan Tuhan melalui firmanNya memampukan kita memiliki dasar pengharapan yang benar dalam setiap kondisi hidup kita. Kita tidak bisa asal berharap dengan pengenalan yang keliru tentang Allah, karena kita bisa menjadi kecewa dan berprasangka buruk kepadaNya dengan pemahaman yang keliru tersebut. Oleh karena itu, pengenalan yang benar tentang Allah adalah penting sehingga kita memiliki dasar pengharapan yang benar pula kepadaNya.

Yang ketiga, dengan berseru kepada Tuhan. Terkadang, kita mengatakan bahwa kita sedang berpengharapan. Namun nyatanya, kita sedang mengandalkan kekuatan kita sendiri saat menghadapi situasi-situasi di dalam hidup. Kita tidak mengandalkan Dia dengan berseru kepadaNya lewat doa dan sikap kita. Kuasa Tuhan nyata saat kita memberi kesempatan padaNya untuk menyatakannya melalui kita.

Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia memberikan kita firmanNya supaya kita bisa mengenalNya dan memiliki dasar pengharapan yang benar kepadaNya. Ia memberikan Roh Kudus untuk menolong kita mengasihi Dia dengan melakukan firmanNya. Ia tidak memaksa kita untuk percaya kepadaNya, tetapi Ia memberi kesempatan kepada kita untuk mengenalNya dan menjadi percaya dengan memberiNya kesempatan untuk menyatakan kuasaNya melalui hidup kita. Dengan begitu, kita menjadi orang-orang yang berpengharapan kepada Allah yang benar, yang tidak menyerah kepada keadaan, namun berserah kepada Allah dalam pengharapan yang sejati.

Kategori
Kesaksian Staf

Ingat akan Nama Yesus

 

 

INGAT AKAN NAMA YESUS

(Yohanes 14:8–14)

            Mendapat suatu penghargaan atau predikat ‘nama baik’ pada suatu event tertentu merupakan dambaan bagi setiap pribadi. Kehormatan yang diperolehnya membuat pribadi tersebut seringkali menjadikannya sebagai prioritas dalam hidupnya. Tidak heran banyak orang termotivasi dan berupaya keras memperoleh predikat nama baik itu. Ada yang melakukannya dengan sepenuh hati, mengandalkan Tuhan serta bekerja keras untuk memperolehnya, namun ada pula yang meresponnya dengan biasa-biasa saja, bahkan hanya terpaku diam, tidak melakukan apa-apa. Ya, setiap pribadi mempunyai hak untuk memprioritaskan hal tersebut dalam karya hidupnya tergantung pada kapasitas atau potensi yang dimilikinya. Motivasi dari dalam diri yang keliru, hati yang tidak sungguh-sungguh bergantung pada kedaulatan dan anugerah Tuhan terkadang membuat setiap pribadi lupa akan siapa yang telah menganugerahkan penghargaan itu dalam hidupnya. Kita egois, lupa dan terlalu sombong untuk mengakui hakikat dan kebaradaan Kristus yang adalah Tuhan dan Allah yang kita puji dan sembah, ‘Kita lupa akan nama Yesus’…!

            Saudara-saudara, pada bagian firman yang kita renungkan bersama dalam Yohanes 14:13 yang berkata: ‘Dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak’. Konteks bagian firman yang ditegaskan Kristus menunjukan bahwa baik di dalam Bapa maupun Anak yaitu Kristus adalah satu. Penegasan yang disampaikan Yesus kepada murid-muridNya secara berulang-ulang bertujuan untuk meyakinkan iman percaya mereka kepada Allah yang mereka sembah, yakni Sang Bapa dan Sang Anak yaitu Kristus juga adalah satu. Puncak perkataan penegasan Yesus kepada murid-muridNya disampaikan dalam ayat 13-14 yang berbunyi ‘Dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku, dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.’ Bagi Yesus ini sangat penting untuk memperkokoh iman percaya mereka!

            Saudara-saudara bila kita berseru meminta dalam nama Yesus, bila kita menyampaikan doa dan permohonan kita kepada Bapa dengan berlandaskan nama Yesus, Bapa di Sorga akan mengabulkannya menurut kedaulataNya, bukan karena kita layak untuk menerima tetapi Dia yang melakukannya. Jadi kita harus percaya dengan iman bahwa ‘Dalam nama Yesus’ menyandang cukup kekuasaan untuk menjamin setiap doa kita. ‘Dalam nama Yesus’ bukanlah sebuah kalimat tanpa makna yang selalu atau biasa kita katakan saat mengakhiri doa dan permohonan kita. Tetapi kalimat itu memiliki makna yang sangat dalam, seluruh perbuatan dahsyat dan karyaNya yang ajaib diwakilkan dalam nama Yesus. Itu sudah cukup!… Nama Yesus memiliki kuasa!…Oleh karena itu saudara-saudara, kita patut bersyukur memiliki Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. ‘Di dalam nama Yesus’ menjadi jaminan bagi kita setiap orang percaya bahwa doa-doa kita akan didengar dan dijawab oleh Tuhan. Nama Yesus menjadi meterai untuk mengesahkan doa dan permohonan kita. Ingat akan nama Yesus sudah lebih dari cukup bagi setiap orang percaya! Indahlah namaNya pengharapan dunia. Indahlah nama Yesus suka Sorga yang baka. Ingatlah akan nama Yesus!…

 

Kategori
Kesaksian Staf

DARI GENERASI KE GENERASI – Sebuah kisah tentang Perjalanan Pelayanan di Pulau Alor

DARI GENERASI KE GENERASI: Sebuah kisah tentang Perjalanan Pelayanan di Pulau Alor

     Semuanya karena Anugerah Tuhan, itulah kalimat yang tepat untuk mengungkapak kekaguman dan rasa syukur yang tak terhingga atas pekerjaan yang Tuhan lakukan dan karyakan melalui pelayanan Perkantas di Alor. Kurang lebih 22 tahun, Perkantas Alor hadir memberi warna dan kontribusi bagi pertumbuhan iman anak-anak remaja, mahasiswa dan kaum professional yang disapa dengan alumni. Sejak 22 tahun yang lalu ketika Visi Pemuridan Perkantas dikerjakan dan disebar luaskan di Pulau kenari, banyak siswa, mahasiswa dan alumni yang takut Tuhan hadir di kota Kalabahi. Bersyukur dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, Tuhan tambahkan jiwa dan orang-orang yang setia melayani-Nya

     Pada kesempatan ini, Pimpinan Cabang Perkantas NTT Kak Rabea Merry melakukan pelayanan traveling dari tanggal 16-22 Mei 2022. Dalam setiap moment Kak Rabea selalu mengingatkan pengurus BPR dan Komponen untuk selalu menghidupi Visi Pemuridan. Core business kita adalah pemuridan karena itu setiap komponen harus berjuang untuk melakukan pemuridan secara maksimal sehingga dapat menghasilkan kader yang akan melanjutkan tongkat estafet pelayanan.

     Puji Tuhan baik dalam pelayanan Alumni maupun Badan pengurus Ranting ada orang-orang yang menyerahkan diri untuk menjadi penatalayan dalam organisasi dikepengurusan alumni maupun di Yayasan. Kita sungguh bersyukur karena terjadi regenerasi dari pengurus lama kepada pengurus yang baru. Pelantikan penguruspun dilakukan dalam Ibadah regenerasi pengurus yang diadakan pada tanggal 20 Mei 2022, dimana Kak Gusman Boling-Lalangpuling dilantik sebagai ketua BPR Perkantas Alor dan Kak Farida sebagai ketua Alumni Kristen Kalabahi/PALKA untuk periode 2022-2024. Sungguh bersyukur karena dari generasi ke generasi selalu ada orang-orang yang Tuhan siapkan untuk melanjutkan tugas yang mulia ini yaitu pemuridan.

     Selain ibadah pelantikan, Kak Rabea juga melayani adik-adik siswa dalam ibadah persisten gabungan siswa se-kalahabi pada tanggal 20 Mei 2022 di Gedung kebaktian GMIT POLA dan ibadah PMK Kota Kalabahi di Kampus Universitas Tribuana Kalabahi pada tanggal 21 Mei 2022. Kak Rabea mengingatkan adik-adik siswa bahwa diri mereka sangatlah berharga di mata Tuhan karena mereka adalah Ciptaan-Nya, Masterpiece of GOD, Man of God sehingga mereka tidak boleh insecure. Begitu juga dengan adik-adik mahasiswa diingatkan oleh kak Rabea melalui Firman Tuhan dari kitab Daniel 1 yang menunjukkan bahwa Daniel dan rekan-rekannya adalah orang-orang yang berpendidikan dan memiliki banyak kemampuan. Sekalipun tinggal di negeri asing namun mereka tidak melupakan bangsanya yaitu bangsa Israel. Mahasiswa Tribuanapun diingatkan agar mereka terus mengembangkan kemampuan dan kepintaran mereka untuk membangun kota, bangsa dan negara ini. Melalui Firman Tuhan itu juga, kak Rabea menginggatkan mereka agar selalu menggunakan pikiran dengan benar yang sesuai kebenaran Firman Tuhan dan benar-benar berpikir atau berpikir kritis untuk setiap kondisi yang ada. Mereka diajak untuk menjadi mahasiswa yang Berpikir Benar dan Benar-Benar Berpikir dalam menjalani kehidupan ini. Mereka tidak boleh menjadi mahasiswa yang hanya ikut-ikutan saja.

     Disela-sela kepadatan pelayanan, Kak Rabea menyempatkan diri untuk berfellowship dengan pengurus BPR Lama yaitu Kak Merry, Kak Marcel dan Kak Linda. Percakapan yang santai namun serius dilakukan untuk saling menguatkan dan mendukung sehingga sekalipun tidak terlibat dalam kepengurusan lagi tapi masih tetap ada bagi pelayanan ini. Begitu juga perjumpaan dengan adik-adik pengurus PMK Kota dan TPS dilakukan untuk saling mengenal dan dapat mendengarkan sharing tentang pelayanan yang mereka kerjakan. Pembinaan bagi pengurus BPR Baru dan Pengurus PALKA juga diberikan untuk membekali rekan-rekan dalam persiapan pelayanan. Tentunya tak ketinggalan fellowship bersama staf perkantas Alor yaitu Kak Nona, Kak Mada dan Kak Fero. Hal lain yang menjadi bagian dari fellowship adalah Kak Rabea dapat mengunjungi, mendengarkan sharing dan menguatkan adik-adik KTBnya yang berada di Pulau Alor, sungguh Tuhan baik karena mempertemukan Kak Rabea dengan adik-adik rohaninya.

     Sebelum Kembali ke Kupang, Kak Rabea diberi kesempatan untuk melayani jemaat di Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Maleilelang Petleng Alor pada ibadah minggu. Bersyukur melalui Firman Tuhan yang dibagikan oleh Kak Rabea dari Injil Lukas 24:13-35 dengan tema “Murid yang mengalami kuasa kebangkitan” menjadi berkat bagi jemaat. Kami sungguh bersyukur karena Tuhan menolong perjalanan pelayanan Kak Rabea selama satu minggu ini sehingga kami semua Kembali disegarkan dan dikuatkan untuk tetap setia dalam melayani Tuhan dan fokus pada pelayanan Pemuridan. Tuhan memberkati

Pelantikan BPR dan Pengurus Alumni Perkantas Alor

Bersama Badan Pengurus Alumni Perkantas Alor

Bersama adik-adik Persisten Kalabahi

Bersama Pengurus PMK Kota dan TPPM Kalabahi

Pelayanan Mimbar dan Foto bersama ibu Gembala dan Majelis GKII Jemaat Maleilelang Patleng Alor.

Kategori
Alumni

Kekuatan Mengikut Tuhan

 

 

     Shalom, Perkenalkan saya Febriana Adriani Soares biasa disapa Feby, alumni mahasiswa Perkantas Kupang. Saya ingin membagikan pengalaman kehidupan bersama Tuhan yang selalu menguatkan saya, serta berbagi tentang ucapan syukur tak terhingga karena bisa bertumbuh dalam wadah ini “PERKANTAS”.  

     Sejak SMA kelas 11 saya sudah menggumulkan untuk bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi, tetapi dalam pikiran terus dihantui dengan rasa ragu karena saya hanya memiliki mama yang saat itu mama harus berhenti bekerja karena penyakit yang dialami tidak memungkinkan lagi. Setelah tamat SMA saya mengikuti beberapa seleksi sekolah kedinasan juga universitas dan hasilnya tidak lulus, itu cukup membuat saya kehilangan harapan. Dalam keadaan yang sangat lemah Tuhan menghadirkan 2 sosok yang menurut pandangan manusia mereka tidak terlalu punya lebih (terutama soal materi), sebut saja nenek dan mama kecil. Mereka adalah orang-orang yang punya hati yang luar biasa untuk selalu menguatkan, terus mengingatkan untuk selalu berdoa dan percaya pada Tuhan, bahkan ada ayat Firman yang menjadi penguatan bagi saya “Filipi 4:6-7” (jadi salah satu ayat hafalan ketika sudah berKTB). Akhirnya saya diterima di Unwira Kupang dan saya mulai percaya Tuhan akan terus memelihara hidup saya.

     Kehidupan sebagai mahasiswi terus berjalan, hingga semester III saya diajak oleh saudara KTB Mety Kase untuk bergabung di PMK Kota Kupang dan mulai berKTB. Selang beberapa bulan saya diminta oleh ketua PMK Kota, Kak Maklon Hede untuk jadi BP PMK Kota. Saya cukup kaget dan juga takut karena belum mengenal dengan baik orang-orang serta pelayanan yang ada di sana, namun saya tetap mengiyakan dan melayani di Sie Acara pada tahun 2016.  Hingga periode berikut saya berpikir untuk berhenti karena yang diingat adalah kesulitan yang dihadapi untuk pergi ke Perkantas tanpa mengingat semua yang Tuhan sudah berikan bahkan lebih dari yang saya minta. Saya ditegur dengan tegas oleh kaka rohani saya, Kak Dance Dengak dengan mengatakan “kamu harus lanjut, tidak ada alasan untuk tidak melayani, harus bayar harga, yang kamu lakukan juga belum sebanding dengan apa yang Tuhan sudah buat dalam kehidupan kamu”. Seketika saya langsung menjawab iya karena melalui teguran itu saya diingatkan banyak hal untuk terus melayani. Ini moment di mana saya merasa utuh kembali dan sangat butuh untuk tetap ada dalam pelayanan. Tahun 2017 saya memutuskan untuk melanjutkan pelayanan sebagai sekertaris di PMK Kota, dan tahun 2018 sebagai Bendahara. Selanjutnya saya dipercayakan lagi untuk melayani sebagai TPPM dari tahun 2018-2021, hingga saat ini sebagai Alumni Perkantas saya tetap terlibat dalam kelompok PA Alumni, berKTB dan memipin KTB. Saya banyak belajar bahwa segalanya tidak selamanya berjalan mulus, kita diperhadapkan pada kesulitan agar kita bisa bertumbuh, terus berserah dan kekuatan sejati hanya datang dari Tuhan.

     Sejak tahun 2018 saya diterima sebagai guru di SMA Kristen Mercusuar Kupang. Hingga saat ini banyak hal yang saya syukuri karena telah didapatkan semasa pelayanan mahasiswa, dan itu menjadi bekal ketika berada di dunia kerja. Saya terus belajar untuk bertanggung jawab dengan apa yang dipercayakan, tetap menjaga integritas, menjadi pendidik yang mau berbagi dalam hal apa pun. Rasanya bahagia sekali ada yang rupanya sering melihat postingan saya mengenai publikasi ibadah dengan tema–tema yang menarik dan terkadang pada saat mengajar, untuk mengatasi kebosanan yang ada saya sering bercerita dan salah satunya tentang Perkantas. Bersyukur beberapa orang mau bergabung di Persisten Kota Kupang, berKTB dan juga mau melayani sebagai BP Persisten Kota Kupang, semoga mereka terus bertahan dan bertumbuh.

     Semua pengalaman yang ada terus mengingatkan bahwa Tuhan bisa memakaimu untuk mengerjakan apa pun dan di mana pun dengan apa yang sudah terencana bahkan di luar rencana, intinya tetap memberi diri dan berserah penuh pada Tuhan. Kesulitan dan masalah pasti ada, tetapi pemeliharaanNya selalu nyata serta kekuatan yang Tuhan limpahkan lebih besar dari masalahmu.

Terima kasih untuk kesempatan berbagi, semoga memberkati.